Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

Menyambut Tahun Baru dengan Muhasaban

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[QS Al Hasyr 59: 18]

Tahun baru Hijrah 1430H dan tahun baru Masehi 2009 dimulai dalam waktu yang hampir bersamaan. Hanya selisih beberapa hari saja. Bahkan dalam bulan Januari 2009 ini juga ada tahun baru Imlek 2560. Momentum ini sangat tepat bagi kita bangsa Indonesia yang terdiri dari etnik, budaya, dan agama yang berbeda-beda untuk bersama-sama melakukan evaluasi diri atau muhasabah.

Dengan muhasabah kita akan temukan banyak perilaku yang sering tidak kita sadari baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Perilaku yang positif yang telah menjadi bagian dari karakter pribadi kita akan kita pertahankan. Sedang perilaku negatif sebagai buah dari keteledoran, kelalaian, dan kekurangan akan kita waspadai dan kita perbaiki. Dengan cara seperti ini kita dapat memahami kekurangan dan kelebihan kita masing-masing, sehingga menjadikan lebih mudah untuk memperbaiki kualitas pribadi kita sendiri sebagai orang Islam.Kualitas pribadi yang baik inilah yang diharapkan menjadi bekal untuk menggapai kesuksesan hidup di dunia dan akherat. Seperti firman Allah dalam QS Al Hasyr 59: 18 di atas yang mengingatkan kita untuk bertakwa dan memikirkan apa yang kita perbuat untuk hari esok, untuk keselamatan hidup yang kekal di akherat. Di akherat inilah digelar kehidupan yang hakiki dan disinilah semua manusia menikmati buah amalnya selama hidup di dunia. Disini pula mengetahui bahwa dirinya berhasil atau gagal menghadapi berbagai ujian hidup di dunia. Sudah pasti mereka yang gagal akan menyesal, sedang yang berhasil akan menikmati kepuasan yang amat sangat.Manusia hanya memiliki kesempatan hidup yang terbatas di dunia ini. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan dia akan mati agar secara adil manusia dibalas sesuai dengan kualitas dirinya masing-masing. Demi perbaikan kualitas diri dan agar tidak menyesal dengan penyesalan yang kekal, sebagai hamba Allah sebaiknya setiap saat kita melakukan muhasabah untuk memperbaikan diri. Muhasabah yang ditindak-lanjuti dengan perbaikan diri secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan pribadi pelakunya lebih baik dari sebelumnya dan membuka kemungkinan yang lebih besar baginya untuk mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah. Allah tidak menghendaki orang beriman mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah [QS Ali Imran 3: 102].Untuk itulah Umar bin Khaththab pernah memberikan nasehat: “Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu”. (Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab). Dalam nasehat tersebut tersirat hubungan antara muhasabah dengan waktu. Segeralah melakukan introspeksi sebelum datangnya mati. Segeralah melakukan perbaikan diri sebelum maut menjemput. Manusia akan menyesal selama-lamanya kalau sampai dia terlambat untuk melakukan muhasabah. Terlambat melakukan evaluasi dan perbaikan diri setelah kedatangan mati. Di sini, di saat kita masih hidup di dunia ini kita diberi kesempatan Allah untuk berprestasi. Berprestasi di mata Rabb-nya dengan membangun ketaatan diri kepada Allah setulus hati (hablumminallahi) dan berprestasi di mata manusia dengan berkarya nyata untuk membangun hablumminannaasi. Mereka yang pandai memanfaatkan waktu, sehingga menjadi orang yang semakin baik dari waktu ke waktulah yang termasuk orang yang beruntung. Dialah orang yang pandai memanfaatkan waktu untuk melakukan introspeksi, evaluasi, koreksi, dan improvisasi sesuai dengan kehendak Allah. Orang yang kehilangan jatah waktunya begitu saja tanpa perbaikan termasuk orang yang buntung. Dia termasuk orang yang lalai dan tidak bersyukur dengan waktu yang sangat terbatas yang diberikan Allah kepadanya. Sedang orang yang semakin tua semakin buruk akhlaknya tidak ada kata yang lebih tepat baginya selain celaka. Dia telah kufur terhadap nikmat waktu dan menyia-nyiakan potensi yang diberikan Allah kepadanya. Saudaraku, dalam menjalani hidup di dunia ini manusia itu seperti seorang musafir yang akhir perjalanannya adalah kematian. Mereka yang didatangi malaikat maut dengan bekal yang cukup akan memperoleh kemenangan. Dan Allah telah berpesan dalam QS Al Baqarah 2: 197: ”Fatazawwaduu fainna khairazzaadittaqwaa, wattaquuni yaa ulil-albaab”. (Maka berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah takwa, bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.) Kalau nasehat untuk melakukan muhasabah kita hubungkan dengan ayat di atas maka muhasabah yang kita lakukan itu haruslah dalam rangka untuk mempersiapkan bekal yang lebih baik, yakni takwa. Maka produk akhir dari orang yang senantiasa bermuhasabah adalah takwa. Sedang takwa ini adalah maqam tertinggi dari manusia di hadapan Allah [QS Al Hujurat 49: 13]. Semoga Allah menjadikan muhasabah tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya berbuah takwa, aamiin.
From : mta-online.com
Selengkapnya...

Mengenal Allah melalui ilmu dan amal

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: :Jika kamu mencintai Allah,ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 3: 31)
Rasulullah saw pernah mengingat-kan: "Tafakkaruu fii khalqillaahi wa laa tafakkaaruu fii dzaatillahi." (Kamu sekalian berfikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan fikirkan tentang dzat Allah.)

Peringatan ini sejalan dengan banyak ayat-ayat Allah yang memerintahkan umat Islam untuk memikirkan alam semesta beserta apa yang ada di dalamnya. Tentang penciptaan alam, tentang langit dan bumi, tentang gunung, tentang air hujan, tentang onta, binatang ternak, tentang tanam-tanaman, tentang bahtera yang berlayar di lautan, bahkan tentang diri manusia sendiri.

Sebaliknya peringatan itu menasehatkan kepada kita semua untuk tidak buang-buang waktu memikirkan tentang dzat Allah. Mengapa? Karena tidak akan berbuah apapun selain kekecewaan. Jangkauan kemampuan akal kita hanya terbatas pada domain empiris saja, tidak mampu menjangkau hal-hal yang bersifat ghaib. Karena dzat Allah itu adalah ruh, dan ruh itu bersifat ghaib, sedang tidak ada makhluk yang dapat menjangkau yang ghaib (QS 27: 65), maka sia-sia kalau manusia memikirkan dzat Allah.

Sebaiknya energi yang dimiliki dipergunakan untuk memikirkan ciptaan Allah, sifat-sifat Allah, dan kebesaran Allah.Orang-orang beriman yang memikirkan dengan sungguh-sungguh tentang ciptaan Allah akan sampai pada kesimpulan: Rabbanaa ma khalaqta hadza baathila .(Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia.) Dia akan mampu melihat keindahan dan kemanfaatan apa yang dipikirkannya. Dia akan mampu melihat keagungan Dzat yang telah menciptakannya. Dia akan semakin menyadari betapa besarnya peran Allah terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia. Dia akan semakin melihat betapa rentan, lemah, dan kecilnya manusia tanpa campur tangan Allah dalam kehidupannya. Secara langsung maupun tidak langsung dia akan semakin mengenal Allah. Semakin tinggi tingkat kefahaman akan peran Allah dalam kesejahteraan hidup manusia dan semakin tinggi tingkat kesadaran akan ketergantungan manusia kepada Allah akan semakin meningkatkan rasa syukur manusia kepada Allah rabbul'alamiin. Situasi seperti inilah yang akan semakin meningkatkan rasa cinta manusia kepada Allah. Benar kata pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Di sisi lain rasa syukur akan karunia dan kebesaran Allah biasa terucap melalui bacaan hamdalah dalam bentuk pujian kepada Allah. Dalam hal ini Syekh Thanthawi Jauhari mengatakan bahwa seseorang memuji Allah sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya atas sifat dan kebesaran Allah. Semakin tinggi ilmu dan semakin luas pengetahuannya tentang alam ini akan dalam rasa syukurnya kepada Allah. Orang yang memuji orang lain padahal dia tidak memiliki pengetahuan tentang orang yang dipujinya, maka pujiannya itu tidak lebih dari sekedar dusta.

Pepatah jawa mengatakan witing tresno jalaran saka kulina (Tumbuhnya rasa cinta disebabkan karena pembiasaan). Dan memang demikianlah seseorang tidak akan dapat menikmati indahnya bersedekah kalau dia tidak membiasakan diri bersedekah apalagi tidak pernah bersedekah. Orang yang mebiasakan diri bersedekah, membiasa-kan diri membantu orang lain, maka akan muncul di dalam hatinya rasa senang ketika dapat membantu orang lain. Sedang orang yang tidak pernah dan tidak mau membantu orang lain akan selalu merasa keberatan bila terpaksa harus membantu orang lain. Allah berusaha menumbuhkan kesadaran beramal dalam diri manusia dengan firman-Nya yang tertulis di atas (QS 3: 31).

Sedang Rasul yang harus diikuti amalannya adalah seorang figur yang banyak beramal, yang selalu membiasakan diri beramal shaleh kapan saja dan dimana saja beliau berada. Shalat malam yang beliau amalkan tidak menambah kecuali keluhuran budinya. Puasa yang beliau amalkan tidak menambah kecuali ketakwaan. Kedermawanan yang beliau amalkan tidak menambah kecuali kecintaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Keberaniannya dalam melangkah di jalan Allah dan kesungguhannya dalam ber-amal tidak menambah kecuali ketakutan dari orang-orang yang memusuhinya. Kegigihan, keuletan, kelemah-lembutan dan kasih sayangnya tidak menambah kecuali penghormatan dan kewibawaan dari para sahabatnya. Sosok kharismatik yang banyak beramal seperti inilah yang dijadikan Allah sebagai teladan bagi umat manusia untuk diikuti agar lebih mengenal Allah swt.

Umar bin Khaththab adalah sosok rasional yang banyak amal. Allah mendatangkan hidayah kepadanya karena dia mempergunakan akalnya untuk memikirkan beberapa ayat dari surat Thaha yang dibacakan kepadanya sesaat sebelum menyatakan keislamannya. Pertimbangan rasionalnya kadang bertentangan dengan pendapat Rasulullah namun justru pernah dibenarkan Allah, seperti pertimbangan yang diberikannya atas sikap yang sebaiknya diambil terhadap tawanan perang Badar.

Sampai-sampai Rasulullah saw memujinya dengan mengatakan bahwa: Allah menjadikan kebenaran di hati dan lidah Umar. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa bila ada nabi lagi sesudahku dialah Umar, tetapi tidak ada nabi sesudahku.

Pertimbangan manapun yang kita utamakan, akal (ilmu) atau amal, tidak menjadi masalah yang penting dapat menjadikan diri kita lebih mengenal Allah. Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita untuk gemar menuntut ilmu dan banyak beramal.***
From : mta-online.com
Selengkapnya...

Kotak silaturahmi



Komentar

Posting

TV Online

MTA FM

Radio MTA-online FM 107.9 - Ska

Widget by : Radio Digital MP

Label

 

Anggota

Mengenai Kami

Foto saya
Kami adalah generasi islam yang siap memperjuangkan islam membawa serta mnyebarkanya. Dengan landasan Al-Quran dan As-sunah kamu berusaha mewujudkan nita kami.

Pendapatmu tentang DAVASIDQI

Template by NdyTeeN